Posts

#PUISI "Lembayung Senja"

Image
Image : Pixabay.com
"Lembayung Senja"
Aku masih di sini, menunggumu.
Bermandi cahaya senja bersama iringan pilu,
Menarik raga yang masih berdentam menggebu,
Berdendangkan syair berlarik rindu.

Aku masih di sini, merindu.
Bertemankan nyanyian ombak yang menghantam batu,
Bergelung bersama tarian nyiur yang tak mengenal waktu,
Berselimutkan pasir putih yang selembut hatimu.

Aku masih di sini, memujamu.
Dengan kepingan hati yang kuharap dapat kembali menyatu,
Berharap tak jemu menghitung sewindu,
Hingga tak ada lagi ragu untuk beradu temu.

Ah, lembayung senjaku.
Kini kau kembali melukis di kanvas kalbu,
Bersama dengan melambungnya harap nyataku.
Aku, kamu bersatu padu.

Singkawang, 4 Maret 2019

"Mengapa Harus Menulis?" || Catatan Hati

Image
Image: Pixabay
Kulihat mentari sedang bersinar dengan  malu-malu, membawa rasa sendu pada nuansa pagi ini. Pun dengan sapuan sang bayu, menggoyang lembut dahan nyiur yang berada di seberang tempatku duduk. Netraku masih menelisik dibalik jeruji besi jendela rumah.

Ah, mungkin kehidupan di luar sana terasa lebih menyenangkan! Tapi, kembali aku terpekur. Bukankah aku sedang menikmati keindahan ciptaan-Nya? Lalu mengapa aku seolah-olah merasa terkurung di bilik kamarku sendiri?

Nyanyian sang ayam betina mengembalikanku ke alam sadar, sedang netraku masih terpaku pada semak yang telah menghitam, mati mengenaskan. Dan, pergerakan di seberang kanan mencuri perhatianku. 

Atap sederhana yang terbuat dari terpal bekas, terlihat mengayun pelan diterpa angin. Tenda tempat peristirahatan tukang-tukang untuk berlindung kala panas maupun hujan terlihat sesak. Terhitung, sekitar sepuluh orang yang duduk di dalam tenda sederhana itu. Tak lama, terdengar riuh rendah tawa di sana. Entah apa yang mereka per…

#PUISI "Ialah Wanitamu"

Image
"Ialah Wanitamu"

Ialah wanitamu.
Kokoh laksana karang yang dihantam ombak,
Rapuh dalam belenggu rasa yang perlahan terkuak,
Ia pendam, hingga menjadi kerak.

Ialah wanitamu,
Ia laksana kayu kepada api
Rela pertaruhkan raga meski nyawa terlihat tak berharga,
Rela hancur agar cintanya hidup sepanjang masa.

Ialah wanitamu.
Laksana udara,
Ada tapi tak dapat selalu mengarahkanmu kembali menuju surga
Ia setia, tapi tak bisa menjadi alasan kau tetap bersamanya.

Ialah wanitamu. Kerutan halus selalu menemani wajahnya,
Tak pelak ia tetap berusaha menjadi sempurna,
Agar kau tak berpaling darinya.

Ialah wanitamu.
Yang masih memujamu meski kerap terluka,
Yang masih tersenyum meski tersengat kecewa.

Ialah wanitamu, istrimu.
Singkawang, 10 Maret 2019

#Puisi "Titip Rindu"

Image
"Titip Rindu"
Aku membisu seketika, Buta jiwa dalam sekejap mata, Laraku datang tanpa banyak bicara, Biaskan fatamorgana cinta.

Senja... Kau yang mengepulkan asap cinta,  Menciptakan bara asmara, Kala kududuk berdua dengan si dia, Yang kini kian mengakar bersama kobaran asa.
Hai senja... Di sini kutermangu melihat awan mengarak cerita, Melukis kilas angan pada lembar kanvas cinta, Merakit waktu akan rapuhnya belenggu jiwa, Yang mengagungkan paparan paripurna.

Debur ombak mengiringi sepiku, Bersama hujan menepikan waktu, Aku terjebak akan kenangan itu, Bayang-bayang yang datang bersama pijar senja yang mengangkasa.

Angin... Bisikkan padanya, Asaku merindu tak kujung reda, Berkisah tentang risalah hati yang terjeda makna, Yang kembali mengalun bertandangkan syair keindahan nestapa.

Ombak... Katakan padanya, Kaplingan hati yang telah Ia tempati, Tak mudah untukku gusur dalam kedipan mata.

Oh Senja... Kutitipkan rindu, Untuk dia sang renjana waktu.


Singkawang, 13 September 2018


#Puisi "Simfoni Hitam Sang Alam"

Image
"Simfoni Hitam Sang Alam" Awan hitam menggeram kelam, Membawa resah bagi penghuni alam, Sinar mentari tenggelam membiaskan temaram, Membawa kabar berita perihal narasi buram.
Rinai hujan bergerak menghujam atap rumbia, Mengucurkan rapuhnya sang awan akan mentari yang berduka, Tetesan meluap menjadi genangan, Banjir, tanah longsor, dan jeritan tangis kematian.
Siapa yang harus dipersalahkan? Aku? Bukan!
Mereka? Bukan!
Lalu siapa? Tapi kita semua yang harus dipersalahkan!
Kita semua yang bertuankan tamak! Kita semua yang memumpun harta dengan merusak indahnya alam!
Hijau kesegaran tak lagi menyapa mata, Tapi bangunan megah berdiri setinggi menara, Membangun pondasi piramida kematian alam.
Laut biru yang berubah menjadi lautan sampah, Udara yang menghitam menari-nari tanpa lelah.
Untuk apa kau bakar lahan? Untuk apa kau musnahkan hutan? Jika hanya menambah bilangan kematian saudaramu! Jika hanya menambah timbunan dosamu!
Sadarlah... Bumi sudah mulai renta, Terforsir waktu di jagat raya, Rengekan kesakitan b…

#Puisi "Dialog Waktu"

Image
"Dialog Waktu" Mengapa waktu? Kau pertemukan pada akhirnya kau pisahkan, Kau bawa manis yang nantinya terasa pahit.
Mengapa waktu? Kau bersekongkol dengan dewa kematian, Detik menitmu menghujam memupuk benciku.
Puaskah kau waktu? Melihatku berkubang dalam nelangsa, Melihat mata yang terus berkaca-kaca.
Mengapa waktu? Kau perlihatkan sesalku di ujung masa, Kau perlihatkan raungan perih akan kehilangan.
Mengapa waktu? Kasih yang kau jeda, Hangat peluknya hilang tak berbekas,  Kau ludahi aku dengan fakta kelalaianku.
Mengapa waktu? Kau bawa raganya pergi, Kau bawa pelangiku pergi, Kau datangkan gelegar petir tak berhati.
Waktu bantu aku... Aku ingin melepas rindu pada senyumnya, Ingin menangis meraba detaknya.
Waktu... Kenapa kau permainkan duniaku, Kenapa semesta juga menjunjungmu, Kenapa semua yang kau dekatkan hanya renjana semata.
Tolong waktu...  Beri aku penjelasan.
Dari aku, yang merindu detaknya.

#Prosa, "Singkawang, Oktober dan Rinduku"

Image
"Singkawang, Oktober dan Rinduku" Langkah kakiku mengentak, menggerus tanah, menerbangkan debu yang tak berdaya di terpa angin sore ini. Di antara wewangian bakaran dupa, lilin merah yang perlahan meleleh di babat kobaran api kecil dari sumbu. Aku terbawa arus rindu. Ingatkah? Di balik bangunan tua peninggalan Belanda, kita saling menggenggam erat jemari. Masih ingatkah? Pada kenangan tiga belas tahun silam. Kita bersama mengayuh sepeda berwarna merah muda. Keranjang depan sepeda, telah penuh terisi camilan. Bubur tahu dan bubur gunting, mulai menguarkan nikmat yang menggedor cacing perut untuk berdemo di balik kantong keresek hitam di keranjang sepeda. Sebungkus es teh yang kusangkutkan di stang sepeda mulai mencair. Kau tertawa di belakang sambil menyemangatiku untuk mengayuh lebih kencang lagi. Mentari ikut bersemangat menyorot kita. Membawa angin pagi dari lambaian beringin tua yang menyejukkan. Kala peluh memburu, berbondong-bondong meluruh di balik kaos hitam yang kukenakan.…